cctv
Rabu, 18 Mei 2016
PEMANDANGAN ALAM MOROWALI UTARA
Selasa, 17 Mei 2016
Morowali Utara, Kabupaten Baru di Provinsi Sulawesi Tengah
Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara ( MorTara ) berkedudukan di Kolonodale Kecamatan Petasia.
Kabupaten Morowali Utara berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Morowali yang terdiri atas cakupan wilayah:
a. Kecamatan Petasia;
b. Kecamatan Petasia Timur ( Pemekaran dari Kecamatan Petasia );
c. Kecamatan Lembo Raya ( Pemekaran dari Kecamatan Lembo );
d. Kecamatan Lembo;
e. Kecamatan Mori Atas;
f. Kecamatan Mori Utara;
g. Kecamatan Soyo Jaya;
h. Kecamatan Bungku Utara; dan
i. Kecamatan Mamosalato.
Kabupaten Morowali Utara mempunyai batas-batas wilayah:
- Sebelah utara berbatasan dengan Desa Buyuntaripa, Desa Korondoda, Desa Bugi Kecamatan Tojo dan Desa Rompi Kecamatan Ulubongka Kabupaten Tojo Una-Una;
- Sebelah timur berbatasan dengan Desa Rata, Desa Gunung Kramat, Desa Matawa, Desa Mangkapa Kecamatan Toili Barat Kabupaten Banggai, dan Laut Banda;
- Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Solonsa Kecamatan Wita Ponda Kabupaten Morowali dan Desa Nuha, Desa Matano, dan Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan; dan
- Sebelah barat berbatasan dengan Desa Uelene, Desa Mayasari Kecamatan Pamona Selatan dan Desa Pancasila, Desa Kamba, Desa Matialemba, Desa Kancu’u dan Desa Masewe Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso.
Proses terbentuknya Kabupaten Morowali Utara berdasarkan Undang - undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2013 yaitu :
Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki luas wilayah ±61.841,29 km
persegi dengan penduduk pada tahun 2012 berjumlah ±2.935.343 jiwa
terdiri atas 11 (sebelas) kabupaten dan 1 (satu) kota, perlu memacu
peningkatan penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka memperkukuh Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Kabupaten Morowali yang mempunyai luas wilayah ±13.041,32 km persegi
dengan jumlah penduduk pada tahun 2012 berjumlah ±236.534 jiwa terdiri
atas 18 (delapan belas) kecamatan dan 258 (dua ratus lima puluh
delapan)desa/kelurahan. Kabupaten ini memiliki potensi yang dapat
dikembangkan untuk mendukung peningkatan penyelenggaraan pemerintahan.
Pembentukan Kabupaten Morowali Utara adalah terlahir dari aspirasi
masyarakat dan secara administrasi telah bergulir sejak tahun 2003.
Alasan pembentukan Kabupaten Morowali Utara merupakan korban dari
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 yang bersifat ambigu sehingga
menimbulkan konflik dalam masyarakat dan menyimpan potensi konflik
horizontal yang tinggi dalam masyarakat.
Sejarah perjuangan melahirkan Kabupaten Morowali tumbuh sejak lama
dengan dicetuskan melalui kemauan politik resolusi DPRD/GR
PropinsiSulawesi Tengah No.1/DPRD/1966, yang isinya meminta kepada
pemerintah pusat agar Propinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11
(sebelas) Daerah Otonom Tingkat II, salah satunya adalah Kabupaten
Morowali yang saat itu disebut wilayah Kerajaan Mori dan Kerajaan
Bungku.
Kabupaten Morowali Utara merupakan wilayah yang didiami oleh mayoritas
Suku Mori yang tergolong kelompok majemuk dan multikultur. Menurut
Albert C. Kruyt (“het Lanschap Mori”) mengklasifikasi penduduk Kerajaan
Mori terdiri dari penduduk pribumi, yaitu mereka yang telah lama menetap
dan menjadi warga Kerajaan Mori yang terbagi lagi dalam 3 (tiga)
golongan, yaitu orang Mori asli, penduduk bukan orang Mori, dan penduduk
aslibukan orang Mori (suku-suku lain) yang mendiami wilayah kerajaan
dan penduduk suku-suku yang berasal dari daerah lain dan sejak
berabad-abad melakukan eksodus dan menetap di wilayah Kerajaan Mori.
Dengan berakhirnya perang dunia ke II, Pemerintah Hindia Belanda
melakukan penataan dengan menjadikan wilayah Kerajaan Mori dan Bungku
sebagai bagian dari wilayah pemerintahan langsung (Government gebied)
dan digabungkan pada wilayah pemerintahan Sulawesi dan daerah
bawahannya(Government van Celebes en Onderhoorigheden) yang pusat
pemerintahannya di Makassar.
Selanjutnya bekas Kerajaan Mori dan Bungku sebagai daerah swapraja yang
masing-masing berkedudukan di Kolonodale dan Bungku. Daerah SwaprajaMori
dibagi 4 (empat) distrik yaitu Distrik Ngusumbatu, Distrik
Sampalowo,Distrik Kangua dan Distrik Soyo yang kepala pemerintahannya
disebut kepala distrik. Pada tahun 1938 Pemerintah Hindia Belanda
melakukan reorganisasi struktur pemerintah dan menghasilkan keputusan
padatahun 1942 bahwa wilayah Swapraja Mori dijadikan 3 (tiga) distrik
yaitu Distrik Tomata berpusat di Tomata, Distrik Ngusumbatu berpusat di
Tinompo, dan Distrik Petasia berpusat di Kolonodale. Seluruh wilayah
permukiman penduduk Suku Mori, wilayah Kecamatan Bungku Utara, dan
Kecamatan Mamasalato yang menyatakan aspirasi dan pernyataan sikap
sebagai yang dahulu sebagai eks daerah Swapraja Bungku kini berada dalam
wilayah pemerintahan Kabupaten Morowali Utara.
Dengan luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk seperti tersebut
diatas, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat belum
sepenuhnya terjangkau terutama di wilayah pedalaman dan kepulauan.
Kondisi demikian perlu diatasi dengan memperpendek rentang kendali
pemerintahan melalui pembentukan daerah otonom baru sehingga pelayanan
publik dapat ditingkatkan guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan
masyarakat.
Sarana dan prasarana pemerintahan yang sudah sangat lengkap terbangun di
wilayah Morowali Utara sehingga dapat dipastikan apabila terbentuk
pelayanan pada masyarakat akan langsung dilakukan tanpa harus membebani
APBD dengan pembangunan gedung pemerintahan. Sarana prasarana
pemerintahan yang sudah tersedia di Kabupaten Morowali Utara di
antaranya, kantor bupati, kantor DPRD kabupaten, kantor
dinas-dinas,rumah jabatan pimpinan pemerintahan kabupaten, kantor
kejaksaan,rumah tahanan, kantor syahbandar, kantor bea cukai, kantor
TNI/Polri,serta fasilitas pelayanan umum yakni pelabuhan, kesehatan
umum, depot Pertamina, telekomunikasi, kelistrikan, perbankan, dan PDAM.
Sumber kekayaan alam yang besar di wilayah Morowali sehingga dapat
dipastikan Morowali Utara dapat membiayai APBD tanpa membebani Kabupaten
Morowali. Kesanggupan Kabupaten Morowali Utara dalam pembiayaan daerah
berdasarkan potensi kekayaan alam yang meliputi nikel, minyak, gas,
marmer, perkebunan karet dan kelapa sawit, sektor pertanian, perikanan
dan perdagangan. Selain itu Ibu Kota Morowali Utara di Kolonodale adalah
satu-satunya kota administratif bentukan Belanda yang belum jadi ibu
kota kabupaten di Indonesia.
Pembentukan Kabupaten Morowali Utara yang merupakan pemekaran dari
Kabupaten Morowali terdiri atas 9 (sembilan) kecamatan, yaitu Kecamatan
Petasia, Kecamatan Petasia Timur, Kecamatan Lembo Raya, Kecamatan Lembo,
Kecamatan Mori Atas, Kecamatan Mori Utara, Kecamatan Soyo Jaya,
Kecamatan Bungku Utara, dan Kecamatan Mamosalato. Kabupaten Morowali
Utara memiliki luas wilayah keseluruhan ±10.004,28 km persegi dengan
jumlah penduduk ±92.766 jiwa pada tahun 2012 dan terdiri atas 125
(seratus dua puluh lima) desa/kelurahan. ( AW20130719 )
SUKU WANA
![]() |
suku Wana
pic: foto.detik.com
|
Suku Wana ini oleh pemerintah setempat digolongkan sebagai komunitas adat terpencil, yang mana di daerah pemukiman suku Wana belum ada fasilitas kesehatan dan sekolah.
Suku Wana disebut juga sebagai Tau Taa Wana yang berarti "orang
yang tinggal di hutan". Sedangkan mereka lebih suka menyebut diri mereka
sebagai Tau Taa, atau "orang Taa".
Suku Wana berbicara dalam bahasa Taa. Bahasa Taa sendiri adalah bahasa
yang diucapkan oleh suku Taa. Dilihat dari bahasa yang diucapkan oleh
suku Wana ini, menunjukkan bahwa suku Wana dengan suku Taa yang berada
di kabupaten Banggai dan kabupaten Tojo Una-Una, kemungkinan besar
adalah kerabat sejak masa lalu.
Pemukiman suku Wana berada di hutan pedalaman, yang mereka sebut sebagai
Lipu. Mereka bermukim di beberapa Lipu, yaitu Lipu To Oewaju, To
Kajumarangke, To Kajupoli, To Posangke, To Bulang, To Langada, To
Untunue dan lain-lain.
Asal usul suku Wana, menurut penuturan masyarakat suku Wana, mengatakan
bahwa dahulunya mereka berasal dari wilayah sebelah tenggara Teluk Bone.
Sedangkan menurut dugaan para peneliti, suku Wana ini hadir di wilayah
ini melalui gelombang migrasi sejak ribuan tahun sebelum masehi. Suku
Wana atau suku To Wana ini termasuk suku tertua di Sulawesi, ada cerita
di Sulawesi Tenggara bahwa suku Towana adalah termasuk salah satu suku
pertama yang menghuni daratan Sulawesi, yang telah ada di Sulawesi sejak
8000 tahun yang lalu pada zaman Mezolithicum.
Versi lain menyebutkan bahwa dari struktur fisik, budaya dan bahasa,
suku Wana termasuk dalam rumpun suku “Koro Toraja”, yang pada jalur
migrasinya berawal dari muara antara Kalaena dan Malili, yang menyusuri
sungai Kalaena dan terus ke utara melewati barisan pegunungan Tokolekaju
dan sampai di bagian tenggara pesisir Danau Poso. Tidak merasa cocok di
tempat ini, mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur laut menyisir
lereng gunung Kadata menuju dataran Walati, di lembah Masewa. Mereka
terus bergerak ke arah timur menyusuri sungai Kuse melewati hulu sungai
Bau, kemudian mereka ke arah timur dan berhenti di hulu sungai Bongka
(Kaju Marangka). Di tempat baru ini lah mereka akhirnya menetap dan
membangun pemukiman, dan terbentuklah komunitas suku Tau Taa Wana.
A.C Kryut, seorang peneliti dari Belanda, dalam artikelnya yang berjudul
De To Wana op Oost-Celebes (1930), menyebutkan sebagian imigran
tersebut menyebar dan menjadi 4 kelompok suku yang memiliki dialek
bahasa yang berbeda, yaitu:
- Suku Burangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di kawasan Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
- Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian bermukim di Manyoe, Sea, sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
- Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di kawasan Kajupoli, Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo, dan Salubiro;
- Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi. Kelompok suku ini sampai sekarang masih menutup diri dari pengaruh luar (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).
![]() |
| Lipu, pemukiman suku Wana pic: earth day |
Menurut tetua-tetua adat suku Wana, mereka meyakini bahwa nenek moyang
mereka dari satu asal, yaitu dari Tundantana, sebuah tempat di wilayah
Kaju Marangka, yang berada dalam kawasan Cagar Alam (CA) Morowali.
Tundantana diyakini sebagai tempat manusia pertama yang dititiskan dari
langit dan kemudian melahirkan nenek moyang Suku Wana.
Menurut cerita rakyat suku Wana, mereka meyakini bahwa mereka berasal
dari seorang perempuan bernama Ngga yang diturunkan ke bumi oleh Pue
(Tuhan) dan seorang lelaki bernama Mbakale yang menitis dari sebatang
kayu besar bernama Kaju Paramba‘a. Keduanya kemudian kawin dan
melahirkan dua orang anak. Anak pertama bernama Manyamrame (perempuan),
dan anak kedua bernama Manyangkareo (laki-laki). Setelah dewasa,
Manyamrame dan Manyangkareo kemudian dikawinkan. Dari perkawinan
tersebut, lahir tujuh orang anak, masing-masing: Jambalawa (perempuan),
Sansambalawa (laki-laki), Lapabisa (perempuan), Vuampuangka (laki-laki),
Pini (perempuan), dan Adimaniyu (perempuan) (Dinas Kesejahteraan Sosial
Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, 2003).
Dalam kehidupan sehari-hari, Suku Wana menyebut tanah warisan leluhur
mereka dengan “tana ntautua” atau tanah para leluhur (Yayasan Sahabat
Morowali, 1998).
“… Di dalam sejarahnya, orang tua dulu menganggap hutan dan tanah
sebagai ayah dan ibu. Hutan atau pohon-pohon (propo) itu ayah dan tanah
itu ibu. Sehingga kami Tau Taa mengelola hutan dan tanah harus dibuatkan
kapongo (sesajian) mampasimang. Tujuannya permisi kepada ayah dan ibu
dan menghindari musibah…” (dalam Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005).
SEJARAH KABUPATEN MOROWALI
Kabupaten
Morowali merupakan Kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran
wilayah Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah berdasarkan
Undang-undang RI Nomor 51 Tahun 1999. Kabupaten Morowali merupakan salah
satu dari sembilan Kabupaten Morowali dan satu kota yang ada di
propinsi Sulawesi Tengah. Sejarah perjuangan untuk melahirkan Kabupaten
Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi
tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya
kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan
dicetuskannya Resolusi DPRD-GR Propinsi Sulawesi Tengah nomor : 1/DPRD/1966
yang isinya meminta kepada Pemerintah Pusat agar Propinsi Sulawesi
Tengah dimekarkan menjadi 11 (sebelas) daerah otonom tingkat II, yaitu 2
(dua) Kotamadya dan 9 Kabupaten, salah satu diantaranya adlah Kabupaten
Morowali (waktu itu masih disebut Mori Bungku).
komplek kantor bupati.
Sejarah
perjuangan panjang ini ternyata tak pernah mengenal akhir, sehingga
begitu masa reformasi, peralihan orde baru ke masa reformasi saat ini,
di mana kebebasan demokrasi lebih digaungkan sebagai konsep
pemerintahan, dengan kemudian diterapkannya konsep pemerintahan
desentralisasi, yang diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah
ditingkat Kabupaten, dimana Kabupaten diberi porsi yang lebih besar lagi
untuk mengatur daerahnya sendiri. Maka semakin luaslah potensi bagi
terbentuknya daerah Kabupaten baru. Oleh karena itu moment ini direspon
oleh masyarakat seluruh lapisan di daerah Morowali untuk memperjuangkan
kembali aspiral lamanya, yakni pembentukan Kabupaten Poso. Dan akhirnya
perjuangan dan aspirasi masyarakat daerah ini berhasil, yakni dengan
keluarnya kebijakan Pemerintah Pusat untuk membentuk daerah Morowali,
berdiri sebagai Kabupaten sendiri, yang diberi nama Kabupaten Morowali,
berdasarkan hasil pemikiran dan kesepakatan seluruh lapisan masyarakat.
Keputusan
Pemerintah Pusat untuk membentuk Kabupaten Morowali ini kemudian
dituangkan ke dalam UU RI Nomor 51 Tahun 1999. Setelah terbentuknya
Kabupaten Morowali, langkah selanjutnya mempersiapkan perangkat wakil
rakyat di DPRD dan pemilihan Bupati, Saat ini bupati terpilih pertama
yang memimpin secara definitif Kabupaten Morowali adalah Andi Muhammad
Abubakar dan Datlin Tamalagi sebagai wakil bupati definitif pertama dan
Drs. H. Chaerudin Zen sebagai Sekertaris Kabupaten Morowali.
Lambang Daerah
Lambang daerah yang mengambarkan unsur-unsur terdiri dari:
Makna gambar:
Bintang melambangakan ketaqwaan terhadadap Tuhan Yang Maha Esa.
Tulisan
“Tepe Asa Moroso” melukiskan semboyan persatuan dan kesatuan masyarakat
Kabupaten Morowali yang artinya bersatu kita teguh.
Rumah Adat Morowali melambangkan tempat musyawarah untuk mencapai mufakat di bawah semboyan “Tepe Asa Moroso”.
Padi dan Kapas melambangkan kesejahteraan dan keadilan.
Lekukan-lekukan pada luar melambangkan kondisi topografi kabupaten morowali yang bervariasi.
Pohon palem melambangkan potensi pertanian yang merupakan salah satu unggulan kekayaan wilayah Kabupaten Morowali.
Perahu melambangkan potensi perikanan dan kelautan.
Padi
jumlah 12 (dua belas), kapas jumlah 10 (sepuluh), dan tiang rumah adat
berjumlah 9 (sembilan) melambangkan tanggal, bulan, tahun terbentuknya
Kabupaten Morowali 12 Oktober 1999.
Makna warna
Warna putih melambangkan ketulusan dan tekad masyarakat morowali membangun daerahnya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
Warna
merah, hitam, dan kuning melambangkan warna khas seni dan budaya
sebagai simbol kesatriaan, keteguhan, dan kematangan dalam membela
kebenaran dan keadilan menuju kejayaan.
Warna hijau melambangkan potensi kehutanan dan perkebunan.
Warna coklat melambangkan potensi barang tambang.
Warna biru melambangkan potensi kelauta.
Drs. H. Anwar Hafid
Bupati Morowali
Drs. S.U. Marunduh M.Hum
Wakil Bupati Morowali
Geografi dan Topografi
A. Kondisi Geografi
Batas dan Luas Wilayah secara administratif Kabupaten Morowali memiliki batas wilayah sebagai berikut :Arah Perbatasan
Utara Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tojo Una-Una
Selatan Berbatasan dengan wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan
Barat Berbatasan dengan Perairan Teluk Tolo dan Kabupaten Banggai
Timur Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah
Luas
daratan Kabupaten Morowali diperkirakan kurang lebih 15.490,12 km2 atau
sekitar 22,77 persen dari luas daratan Propinsi Sulawesi Tengah. Luas
Wilayah Kabupaten Morowali menempati urutan pertama bila dibandingkan
dengan luas daratan kabupaten / kota lainnya di Sulawesi Tengah.
B. Topografi Wilayah
Wilayah
Morowali terdiri dari 13 kecamatan, terdapat 3 kecamatan yang merupakan
daerah kepulauan, yaitu Kecamatan Bungku Selatan, Kecamatan Menui
Kepulauan, Kecamatan Bungku Utara. Gambar berikut ini menjelaskan
perbandingan luas wilayah daratan per kecamatan:
Gambar 1.1 Persentase Perbandingan Luas Wilayah daratan Per Kecamatan di Kabupaten Morowali
Sumber : BPS Kab. Morowali (Diolah)
Sebagian
besar wilayah Kabupaten Morowali merupakan wilayah pedesaan dengan
kondisi geografis dan topografi yang berbeda-beda. Adapun jumlah desa
per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini :
Tabel 1.1 Jumlah Desa per-Kecamatan Berdasarkan Keadaan Geografis dan TopografiGeografis
No Kecamatan Pantai Lembah Bukit Daratan Total
(kol 3+4+5+6)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Menui Kepulauan 19 - - - 19
2 Bungku Selatan 32 - 1 - 33
3 Bahodopi 10 - - 2 12
4 Bungku Tengah 23 - 1 5 29
5 Bungku Barat 9 - - 1 10
6 Bumi Raya 5 - 3 5 13
7 Witaponda 4 - - 5 9
8 Lembo - 3 7 14 24
9 Mori Atas - 2 6 12 20
10 Petasia 13 4 2 9 28
11 Soyo Jaya 3 1 5 - 9
12 Bungku utara 8 - 2 10 20
13 Mamosalato 6 4 2 2 14
Kab. Morowali 132 14 29 65 240
Secara Topografi
No Kecamatan Pantai Lembah Total (kol 3+4)
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Menui Kepulauan 16 3 19
2. Bungku Selatan 14 19 33
3. Bahodopi 12 - 12
4. Bungku Tengah 22 7 29
5. Bungku Barat 10 - 10
6. Bumi Raya 13 - 13
7. Witaponda 7 2 9
8. Lembo 17 7 24
9. Mori Atas 11 9 20
10. Petasia 16 12 28
11. Soyo Jaya 6 3 9
12. Bungku utara 17 3 20
13. Mamosalato 8 6 14
Kab. Morowali 169 71 240
Sumber : BPS Kab. Morowali (Diolah)
C. Gambaran Umum Demografis
Berdasarkan
jumlah luas wilayah 15.490,12 Km2, maka kepadatan penduduk Kabupaten
Morowali sekitar 12 jiwa/Km2. Struktur umur dapat dikelompokkan menjadi
kelompok usia produktif (15-54 tahun) dan usia non produktif (0-14 tahun
dan > 54 tahun). Kelompok usia produktif di Kabupaten Morowali
sejumlah 94.737 jiwa (57,23 %), sedangkan kelompok usia non produktif
sejumlah 69.266 jiwa (41,82 %). Tingkat ketergantungan usia non
produktif terhadap usia produktif di Kabupaten Morowali relatif cukup
tinggi yaitu 75 : 100. Dari data tersebut, terlihat bahwa struktur
penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Morowali, dapat dikatakan
cukup berimbang. Dimana jumlah laki-laki sebanyak 85.502 jiwa (51,65 %)
dan perempuan sebanyak 80.040 jiwa (48,35 %) dengan sex ratio yang
hampir seimbang.
Tingkat
pendidikan penduduk Kabupaten Morowali dapat dikatakan relatif masih
rendah. Berdasarkan data yang ada, jumlah penduduk yang berpendidikan di
bawah SMU/SMK sederajat (SLTP, SD termasuk didalamnya mereka yang tidak
/ belum pernah sekolah) berjumlah 121.764 jiwa (89,09 %). Sedangkan
yang berpendidikan SMU sederajat ke atas (D1, D2, D3, S1 dan S2)
berjumlah 14.91 2 jiwa (sekitar 10,91 %). Adapun prosentase tingkat
pendidikan penduduk per kecamatan dapat dilihat pada gamber berikut :
Gambar 1.2 Perbandingan Jumlah Penduduk per Kecamatan
Sumber : BPS Kab. Morowali
http:
Masyarakat Etnik Bungku, Kab. Morowali Sulawesi Tengah
Masyarakat Etnik Bungku, atau dikenal juga dengan "To Bungku" adalah salah satu etnik yang terdapat di Provinsi Sulawesi
Tengah, tersebar di Kecamatan Bungku Utara, Kecamatan Bungku Tengah, Kecamatan Bungku Pesisir, Kecamatan Bungku Timur, Kecamatan Bungku Barat, dan Kecamatan Bungku Selatan. Populasi etnik Bungku diperkirakan telah
mencapai sebesar 22.000 orang.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bungku, yang terbagi atas beberapa dialeg misalnya Ta'a, Merui dan Lalaeo. Orang Bungku lebih suka mendiami daerah pedalaman yang memang merupakan tanah leluhur mereka. Karena mereka tinggal di pedalaman, hubungan dengan orang luar secara mantap masih kurang. Tetapi dengan adanya Trans-Sulawesi, sekarang mereka mulai berkomunikasi dengan orang luar. Bahasa Bungku terdiri dari beberapa kasta (tingkatan) bahasa, yaitu amat halus, halus, bahasa sedang dan bahasa kasar. Masyarakat imigran di daerah ini menggunakan bahasa mereka sendiri, seperti bahasa Bugis, Bajo dan Jawa.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bungku, yang terbagi atas beberapa dialeg misalnya Ta'a, Merui dan Lalaeo. Orang Bungku lebih suka mendiami daerah pedalaman yang memang merupakan tanah leluhur mereka. Karena mereka tinggal di pedalaman, hubungan dengan orang luar secara mantap masih kurang. Tetapi dengan adanya Trans-Sulawesi, sekarang mereka mulai berkomunikasi dengan orang luar. Bahasa Bungku terdiri dari beberapa kasta (tingkatan) bahasa, yaitu amat halus, halus, bahasa sedang dan bahasa kasar. Masyarakat imigran di daerah ini menggunakan bahasa mereka sendiri, seperti bahasa Bugis, Bajo dan Jawa.
Menurut sejarahnya bahwa leluhur masyarakat etnik Bungku berasal dari daerah Bugis. Etnik
Bungku masih berkerabat dengan etnik Bugis, yang diduga memiliki hubungan
sejarah masa lalu dan asal usul. Walaupun suku Bungku sebagai penduduk
Sulawesi Tengah tetapi budayanya banyak memiliki kemiripan dengan budaya
Bugis.
Masyarakat etnik Bungku secara mayoritas adalah penganut agama Islam
Sufi. Mereka adalah penganut Islam yang taat. Beberapa pengamalan dalam
hidup sangat kental dipengaruhi oleh budaya Islam, terlihat dalam
beberapa tradisi adat dan kesenian mengandung unsur Islami.
Pengaruh animisme pada etnik Bungku pada saat sebelum masuknya Islam pada kalangan masyarakat etnik Bungku sedikit tidaknya masih terlihat dari fenomena dukun tetap berpengaruh pada masyarakat Bungku, dukun dalam bahasa Bungku disebut dengan istilah Sando. Kepercayaan animisme tradisonal yang lebih tua masih tetap dijaga, misalnya masih percaya pada berbagai macam roh-roh dan melakukan berbagai ritual, baik untuk menenangkan atau mengendalikannya.
Dalam sistem organisasi kemasyarakatan masyarakat Bungku terdiri dari beberapa struktur lapisan, yaitu: masyarakat raja (pau), bangsawan (mokole), rakyat biasa dan budak (ata). Sistem kekerabatan dalam masyarakat Bungku disebut tepoalu petutua’ia. Selain itu, juga dapat ditelusuri melalui sistem gotongroyong yang berlaku pada masyarakat seperti, metatulungi, mefalo-falo dan mo’ala oleo.
Masyarakat etnik Bungku memiliki berbagai macam kesenian seperti: seni beladiri silat (kontaw dan manca), seni tetabuhan (tatabua) ndengu-ndengu, ganda dan rabana.
Pada masa pemerintahan kerajaan di tanah Bungku, terdapat 8 pesan filsafat yang maknanya cukup dalam namun kini sudah tidak ditemukan lagi pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
- “baratantonga tompano kapandeanto, tila mengkena pande motauanto” artinya seimbangkan ujung ketrampilan kita, bahagi sama ujung ketrampilan dan pengetahuan kita.
- sopan santun dalam bahasa Bungku dikenal dengan istilah Kona’adati, konalelu, dan kona atora artinya bertingkah laku sesuai dengan tuntunan adat istiadat.
- kemandirian dalam bahasa Bungku identik dengan tumorampanta, tumadempanta atau lumakompanta artinya hidup sendiri, berdiri sendiri atau berjalan sendiri.
- taat terhadap orang tua merupakan kewajiban seorang anak.
- disiplin dan cermat yang disebut katutu atau matutu,
- tanggung jawab,
- kejujuran dalam bahasa Bungku disebut kamoleoa atau moleo.
- rasa pengabdian yang dikenal dengan safa montulungi yang juga diidentikkan dengan pongkokolaro.
Masyarakat etnik Bungku pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka menanam padi sawah maupun ladang, serta becocoktanam berbagai jenis
sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa tanaman keras hungga saat ini mereka
tanam-tumbuhkan seperti kelapa, cocoa, cengkeh dan jambu mente. Selain itu beberapa dari
mereka memilih profesi sebagai pedagang dan lain-lain.
sumber bacaan:
- bungkusulteng.blogspot.com
Sejarah Kerajaan Bungku 1
Tak banyak orang Indonesia yang mengetahui wilayah Bungku di
Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Padahal, wilayah yang terdiri dari
berbagai pulau ini memiliki pemandangan alam yang indah, dengan penduduk
yang memiliki berbagai latar belakang agama dan suku yang berbeda.
Selain suku Bungku sendiri, wilayah ini antara lain ditinggali oleh oleh
orang-orang dari suku Mori, Kaili, Menui Bugis, Buton, Ambon, Manado,
Gorontalo, Makassar, Toraja, dan Bajo.
Kata “Bungku” sekarang ini memiliki beberapa makna (pengertian)
antara lain: pertama menunjuk kepada satu etnis dari dua belas etnis
yang mendiami Provinsi Sulawesi Tengah. kedua menunjuk kepada suatu
wilayah eks landschap Tambuku/Tombuku (Bungku) yang merupakan satu
kesatuan geografis terletak di Kabupaten Morowali dan membentang dari
Kecamatan Menui Kepulauan sampai dengan Kecamatan Mamo Salato.
Menurut cerita yang berkembang dan dikembangkan oleh masyarakat
Bungku bahwa, kerajaan Bungku dahulu diperintah oleh raja-raja yang
berasal dari keturunan leluhur yang sama mulai dari raja pertama sampai
raja ke 13 sebagai raja terakhir hingga Indonesia merdeka. Raja pertama
Kerajaan Bungku adalah Marhum Sangiang Kinambuka. Ayahnya bernama Sangia
Oheo dan ibunya bernama Fengguluri. Adapun istri dari Sangiang Kinambuka
adalah Wendoria gelar Apu Boki, keturunan Mokole Lere di Routa. Sangiang
Kinambuka mempunyai dua orang saudara, bernama Fengkoila bergelar Sangia
I Nato memerintah di Kendari dan Feluo Sangia Felungku memerintah di
Kerajaan Luwu Palopo.
Kerajaan Bungku berdiri sebagai akibat dari sikap kesewenang-wenangan
pemerintah Hindia Belanda yang ingin mengikat seluruh kerajaan yang ada
di wilayah Sulawesi Tengah dalam sebuah perjanjian yang hanya
menguntungkan sebelah pihak. Kerajaan-kerajaan yang menolak perjanjian
tersebut akan diserang dengan cara-cara kekerasan oleh Belanda dan
kemudian wilayah kerajaannya dipecah-pecah. Salah satu kerajaan yang
menolak perikatan itu adalah Kerajaan Mori, yang kemudian oleh Belanda
dipecah menjadi Kerajaan Mori dan Kerajaan Bungku.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, ketika kekuasaan penjajahan
Belanda sudah semakin kuat, Pulau Sulawesi pada tahun 1905 oleh Belanda
dibagi menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan
Provinsi Sulawesi Utara. Batas kedua provinsi tersebut adalah Pegunungan
Tokolekayu di sebelah selatan Danau Poso. Provinsi Sulawesi Selatan
dengan ibu kotanya Makassar dipimpin oleh seorang gubernur dan Provinsi
Sulawesi Utara dengan ibu kotanya Manado dipimpin oleh seorang residen.
Gubernur dan residen secara organisatoris berada langsung di bawah
Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkedudukan di Batavia.
Pada periode 1903-1918, daerah Sulawesi Tengah yang kita kenal
sekarang ini sebagian termasuk dalam wilayah Keresidenan Sulawesi
Selatan dan sebagian lagi termasuk wilayah Keresidenan Sulawesi Utara.
Yang termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Oost Celebes) adalah
Onderafdeling Kolondale, yang terdiri dari Kerajaan Mori dan Bungku.
Keberadaan masyarakat Bungku sejak tahun 1622 sudah dikenal di Eropa
terutama oleh orang Portugis dengan kata “Tobuguo”. Nama ini
diperkenalkan oleh Hessel Gerrits dalam buku “La Kartographie
Neederlandaise de la Celebes” sementara dalam literatur Belanda terdapat
dua nama secara bergantian digunakan untuk menyebut Bungku yaitu
“Tambuku” dan “Tombuku” kemudian hingga kini belum diketahui sejak kapan
berubah menjadi “Bungku” yang kita kenal sebagai salah satu bagian dari
wilayah Kabupaten Morowali Sekarang.
Sayangnya, meski terbilang kerajaan muda karena baru berdiri pada
awal abad ke-20, sejarah Kerajaan Bungku dan berbagai informasi yang
berkaitan dengannya sangat sedikit sekali diketahui oleh bangsa ini.
Padahal, tak dapat dimungkiri, Kerajaan Bungku merupakan mata rantai
dari perjalanan panjang sejarah bangsa ini. Dan, informasi sejarah lokal
semacam itu memiliki nilai penting bagi bangsa ini sebagai pijakan
untuk menata masa depan yang lebih baik.
Sumber : http://morowalinews.com/
Mengenal Sejarah dan Budaya Suku Mori

Suku Mori dikenal sebagai masyarakat atau penduduk Kerajaan Mori
yang wilayahnya terletak di pesisir timur Propinsi Sulawesi Tengah,
tepatnya disekitar Teluk Tomori atau yang juga lazim disebut Teluk Tolo
(diapit oleh jazirah tenggara dan jazirah timur laut pulau Sulawesi).
Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan yang berkembang di Indonesia.
Masyarakat Wita Mori atau Suku Mori
merupakan kelompok etnik yang cukup besar di Sulawesi Tengah yang saat
ini berada dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Morowali. Sejarah
terbentuknya Kerajaan Mori pada zaman dahulu ini sama halnya dengan
pembentukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada umumnya yaitu dari kisah
kehadiran tokoh luar biasa. Walaupun memiliki corak dan karakter yang
berbeda, legenda yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mori ini berawal
dari penemuan tokoh yang hadir secara luar biasa dan dapat diterima
serta ditempatkan untuk memangku jabatan Mokole.
Dari kajian-kajian yang bersumber
dari peninggalan leluhur yang didukung dengan kepustakaan yang ada,
diketahui bahwa Wita Mori adalah wilayah persemakmuran yang terdiri dari
gabungan Wilayah Otonom yang mempunyai pimpinan/kepala
suku sendiri-sendiri. Walaupun demikian, bahasa, adat istiadat serta
silsilah kepala suku/Pemimpin yang pernah menduduki jabatan dapatlah
diketahui bahwa mereka berasal dari satu keturunan ratusan tahun yang
silam. Ikatan kekeluargaan ini yang merupakan pengikat solidaritas yang
mendorong lahirnya wilayah persemakmuran untuk membangun secara
bersama-sama kesejahteraan dan pertahanan secara terpadu dalam
menghadapi perang antar suku (Mengayau) .
Berkaitan kisah Sawerigading turun
temurun dikalangan tua-tua Wita Mori dapatlah dikatakan bahwa wilayah
Wita Mori merupakan pengembangan dari Kerajaan Luwu. Hal ini dipertegas
lagi dengan adanya Upeti yang harus dikirimkan setiap tahun kepada Datu Luwu
dari beberapa wilayah Sulawesi Tengah bagian timur, antara lain Bungku,
Mori dan Banggai. Saat itu, Wita Mori dipimpin oleh seorang wanita
bernama Wedange yang dibantu oleh Karua/Tadulako bernama Kello dan berkedudukan di Wawontuko (Puncak Tongkat). Pada waktu itu Wedange tidak mau menghadiri panggilan Datu Luwu untuk bertemu di Uluanso
sehubungan dengan keterlambatan pembayaran upeti dan hanya menyampaikan
pesan lewat Karua Kello bahwa “saya lebih baik memilih mati”. Sejak
saat itu, Kerajaan Luwu mulai menyerang Kerajaan Mori yang dalam
pertempuran sengit berhasil menaklukkan serta menawan Wedange dan
keluarganya serta Karua Kello di Palopo.
Catan bukti keberadaan sawerigading di
tanah mori ( teluk Tomori yang diusulkan sebagai taman wisata laut yang
menarik antara lain batu payung yang jelas nampak seperti payung pada
saat air laut surut Kemudian gua tapak tangan di desa Tapahulu dan Ganda
– ganda yang bernilai sejarah peninggalan Sawerigading.)
Sejak saat itu Wita Mori mengalami
kekosongan Pemimpin dalam menghadapi serangan Pengayau sampai dengan
tampilnya seorang tokoh legendaris, seorang Tadulako dengan gelar Tandu Rumba-Rumba bernama Rorahako.
Rorahako mengumpulkan para Tadulako dari setiap anak suku di Wita Mori
untuk menghadap datu Luwu memohon agar Raja Wedange dibebaskan agar
dapat kembali memimpin Wita Mori, permohonan itu direstui oleh Datu
Luwu. Namun, Wedange yang pada saat itu telah lanjut usia menunjuk
anaknya Anamba untuk menjadi pimpinan sementara dengan
syarat Wita Mori tidak lagi berkedudukan di Wawontuko, akan tetapi
disuatu tempat yang lebih jauh ke pedalaman yaitu satu tempat yang
bernama Pa’antoule (Petasia), sampai akan ada seorang Raja yang ditunjuk oleh Datu Palopo
Demikianlah dikenal urutan kedudukan Ibu
Kota Wita Mori yang sering berpindah tempat, mulai dari Wawontuko, Pa’a
Ntoule, Petasia, Matanda’u (Mata Wundula) dengan urutan sesuai data yang
ada sejak di Pa’antoule yaitu : Anamba (Pimpinan Sementera) , Raja Sungkawawo, Raja Lawoliyo, Raja Tosaleko, dan terakhir Raja Marunduh yang gugur dalam pertempuran melawan Ekspedisi Militer Kolonial Belanda, dikenal dengan Perang Wulanderi (Agustus 1907).
Secara kultural, sejak Sungkawawo
memerintah wilayah Mori pada masa lampau menjadi Kerajaan Mori yang
diklasifikasikan atas tiga bagian yaitu (1) Mori Atas (Boven Mori)
yang merupakan daerah pemukiman orang Mori dibagian barat. Pada bagian
utara dan barat laut daerah ini terbentang padang ilalang yang luas, dan
pada bagian selatan terbentang deretan pegunungan. (2) Mori Bawah (Beneden Mori) atau yang lebih dikenal dengan Lembo.
Wilayah ini terbentang pada bagian timur dan tenggara dari wilayah Mori
Atas, merupakan dataran rendah yang luas sehingga disebut Lembo. (3)
Pada bagian selatan dari deretan pegunungan itu, yang dikategorikan
sebagai bagian ketiga dari wilayah Kerajaan Mori disebut daerah Danau Malili, atau juga dikenal dengan daerah Nuha. Di daerah ini terdapat tiga danau yaitu Danau Matano, Dana Moholona, dan Danau Towuti,
merupakan daerah yang sangat indah dan menawan karena dihiasi
gunung-gunung tinggi serta diantaranya terbentang dataran tinggi sampai
ke wilayah Nuha. Wilayah Nuha saat ini telah menjadi bagian dari
Kabupaten Luwu Timur Propinsi Sulawesi Selatan.
Batas wilayah Kerajaan Mori yaitu bagian
utara berbatasan dengan wilayah Kerajaan Poso (sekarang Kabupaten Poso)
dan Tojo, bagian barat berbatasan dengan wilayah pemukiman kelompok suku
Pasa (Topasa), Lamusa (Tolamusa), dan Palande (Topalande) yang berada dalam dominasi kekuasaan Kerajaan Poso. Pada bagian selatan berbatasan dengan bekas wilayah Kerajaan Luwu (sekarang secara khusus berbatasan dengan wilayah Kabupaten Luwu Timur) dan wilayah Kerajaan Bungku. Pada bagian timur berbatasan dengan Teluk Tomori (Teluk Tolo) dan sebagian dari wilayah Kerajaan Bungku (saat ini menjadi Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali).
Suku Mori tergolong kelompok yang majemuk dan multikultural. Albert C. Kruyt (“Het Lanschap Mori” dalam : Medelingen van Wege het Nederlandsche Zendeling Genootschap, 1895) mengklasifikasikan
penduduk Kerajaan Mori dalam dua kategori. Kategori pertama adalah
penduduk pribumi, yaitu mereka yang telah lama menetap dan telah menjadi
warga Kerajaan Mori. Penduduk pribumi ini terbagi lagi menjadi 3
golongan, yaitu : Orang Mori asli, penduduk asli bukan orang Mori (suku-suku lain) yang mendami wilayah kerajaan, dan penduduk suku-suku yang berasal dari daerah lain
dan sejak berabad-abad yang lalu melakukan eksodus dan menetap di
wilayah Kerajaan Mori. Kategori kedua adalah orang asing. Kategori ini
menunjuk pada kelompok kaum yang datang dari luar Mori, bukan dengan
tujuan untuk menetap dan menjadi penduduk Mori. Mereka adalah
orang-orang yang bermata pencaharian sebagai peramu dan pedagang.
Kehadirannya didaerah ini berkaitan dengan perkembangan perdagangan
diwilayah Hindia Belanda, khususnya diluar Jawa dan Madura, yang pada
waktu itu ada kebijakan pemerintah kolonial membuka kawasan ini menjadi
kawasan pergadagangan bebas dan membuka beberapa pelabuhan sebagai
pelabuhan bebas pada tahun 1847. Dengan adanya kebijakan perdagangan
bebas ini maka terbukalah akses dengan pedagang-pedagang Bugis dan Cina
yang terus berdatangan ke wilayah Mori. Selain berdagang, juga mencari
rempah-rempah yang memang sangat banyak dikandung oleh kekayaan alam
Wita Mori. Dengan demikian maka terbuka juga peluang transaksi senjata
api antara Raja serta para Mokole dengan pedagang-pedagang Bugis dan
Cina ini, yang pada awalnya hanya sebagai hadiah dari para pedagang agar
supaya mereka dapat diterima serta leluasa melakukan aktifitas
niaganya.
Seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di
Nusantara ini tidak lepas dari peperangan, baik antar suku/kerajaan
maupun perang melawan Kolonial Belanda yang ingin menguasai serta
menjajah Bangsa Indonesia. Demikian pula dengan Kerajaan Mori, walaupun
hanya kerajaan kecil namun tercatat pula sejarah yang mengisahkan
tentang peperangan antar suku/kerajaan dan peperangan melawan Kolonial
Belanda. Sejak tahun 1670, Kerajaan Mori telah berupaya untuk
mempertahankan wilayah kekuasaannya dari Kerajaan-Kerajaan lain yang
ingin merampas serta menduduki Kerajaan Mori. Diantaranya, perang
melawan Kerajaan Luwu yang saat itu mengalami kekalahan bahkan Ratu
Wedange pemimpin pertama Kerajaan Mori sempat menjadi tawanan politik
Kerajaan Luwu. Selanjutnya perang melawan pemerintah Hindia Belanda pada
tahun 1856 yang dikenal dengan Perang Mori Pertama (Perang Ensaondau), dipimpin oleh Raja Tosaleko yang
pada saat itu telah mulai dapat menghimpun kekuatan setelah beberapa
kali melakukan pembenahan dari struktur pemerintahan sebelumnya yang
dianggap kurang memuaskan dalam mengurus kegiatan pemerintahan serta
pertahanan keamanan kerajaan. Dalam perang Ensaondau tersebut, Belanda
berhasil merebut dan mengibarkan benderanya di Benteng Ensaondau.
Pasukan Belanda berhasil menduduki Tompira dan Benteng Ensaondau,
membakar permukiman di Patongoa dan Wawontuko. Namun, ekspedisi pasukan
Belanda ini dianggap kurang memuaskan karena telah banyak menelan korban
dari pasukan militer serta mengeluarkan anggaran yang sangat besar, dan
nyatanya Kerajaan Mori tetap berjaya menjadi satu kerajaan merdeka dan
berdaulat penuh. Perang besar lainnya, yaitu Perang Mori Kedua (Perang Wulanderi) yang dipimpin oleh Raja Marunduh (Datu ri Tana) pada bulan Agustus 1907. Perang ini berakhir dengan kematian Raja Marunduh Datu ri Tana setelah
mendapat serangan dari pasukan Marsose di Benteng Wulanderi. Kematian
Raja Mori ini menimbulkan duka yang teramat dalam bagi rakyat Mori. Hal
ini menjadi titik terlemah bagi perjuangan rakyat Mori dalam
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya. Rakyat Mori dirundung duka
dan berkabung sehingga sangat sulit untuk kembali membangkitkan
semangat untuk meneruskan perlawanan. Pada akhirnya atas kesepakatan
bersama para Mokole dan Tadulako, seluruh daerah pertahanan mengibarkan
bendera putih sebagai tanda pernyataan menyerah. Dengan demikian pasukan
ekspedisi Belanda menyataka bahwa seluruh wilayah Kerajaan Mori telah
berhasil ditaklukkan dan dikuasai pada 20 Agustus 1907.
Dengan berakhirnya Perang Mori II, maka
Pemeintah Hindia Belanda melakukan penataan dengan menjadikan wilayah
Kerajaan Mori sebagai bagian dari wilayah pemerintahan langsung (government gebied) dan digabungkan pada wilayah pemerintahan Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Government van Celebes en Onderhoorigheden), yang
pusat pemerintahannya di Makassar. Selanjutnya, masing-masing bekas
Kerajaan Mori dan Bungku berkedudukan sebagai daerah Swapraja. Daerah
Swapraja Mori dibagi dalam 4 distrik, yaitu Distrik Ngusumbatu,
Sampalowo, Kangua dan Soyo. Kepala Pemerintahannya disebut Kepala
Distrik. Pada tahun 1938, Pemerintah Hindia Belanda melakukan
reorganisasi struktur pemerintahan dan menghasilkan keputusan pada tahun
1942 bahwa wilayah Swapraja Mori dijadikan 3 distrik, yaitu : Distrik
Tomata (berpusat di Tomata), Distrik Ngusumbatu (berpusat di Tinompo) dan Distrik Petasia (berpusat di Kolonodale).
Sejak diterbitkannya Undang-Undang RI
Nomor 52 Tahun 1999, seluruh wilayah permukiman penduduk Suku Mori kini
berada dalam Wilayah Pemerintah Kabupaten Morowali (hasil pemekaran
wilayah Kabupaten Poso), yang terpusat di 7 Kecamatan dari 16 Kecamatan
yang ada, yaitu : (1) Kecamatan Mori Atas (kedudukan pemerintahan di Tomata), (2) Kecamatan Mori Utara (kedudukan pemerintahan di Mayumba), (3) Kecamatan Lembo (kedudukan pemerintahan di Beteleme), (4) Kecamatan Lembo Raya (kedudukan pemerintahan di Petumbea), (5) Kecamatan Petasia (kedudukan pemerintahan di Kolonodale), (6) Kecamatan Petasia Timur (kedudukan pemerintahan di Bungintimbe), Kecamatan Soyo Jaya (kedudukan pemerintahan di Lembah Sumara).

(Situs Istana Raja Mori, lokasi Kolonodale??)
Melihat umur dan struktur bangunan , kemungkinan ini adalah kantor pemerintahan kolonial yang pertama di Petasia (red)
Melihat umur dan struktur bangunan , kemungkinan ini adalah kantor pemerintahan kolonial yang pertama di Petasia (red)
Langganan:
Postingan (Atom)










.jpg)
.jpg)






